Ritual Pertanian Brebes Jawa Tengah
A. Sejarah Tradisi Ngasa
Upacara adat Ngasa merupakan kegiatan ritual masyarakat Dukuh Jalawastu yang dilaksanakan setahun sekali yakni pada mangsa kesanga. Siapa yang menciptakan kegiatan ritual ini, tidak dapat diketahui dengan pasti. Namun yang jelas bahwa upacara adat ngasa telah dilaksanakan oleh masyaraakat Jalawastu secara turun-temurun sejak ratusan tahun yang silam. Sebagaimana telah disampaikan oleh pemangku adat setempat bahwa masyarakat di daerah pantai mengenal tradisi sedekah laut, masyarakat di dataran rendah mengenal tradisi sedekah bumi. Masyarakat Dukuh Jalawastu yang lingkungan alamnya berupa daerah pegunungan juga mengenal sedekah gunung.
Walaupun terdapat variasi dalam hal penyebutan nama upacara, akan tetapi setiap upacara adat pada hakekatnya memiliki kesamaan, yakni ditujukan kepada kekuatan diluar kemampuan manusia (gaib). Adapun yang dimaksud dengan kekuatan di luar manusia di sini dapat diartikan sebagai Tuhan YME atau kekuatan supernatural, seperti roh-roh nenek moyang, roh leluhur, atau kekuatan alam yang dianggap mampu memberikan perlindungan, dan sebagainya.
B. Lokasi Tradisi Ngasa
Tradisi Ngasa merupakan tradisi masyarakat adat yang tinggal di Dukuh Jalawastu. Secara administratif, dukuh tersebut lokasinya berada di wilayah Desa Ciseureuh, Kecamatan Ketanggungan, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Walaupun Desa Ciseureuh lokasinya berada di Jawa Tengah, akan tetapi bahasa sehari-hari yang digunakan umumnya bahasa Sunda- Brebes.. Adapun akses jalan untuk menuju ke Dukuh Jalawastu masih berupa jalanan berbatu, walaupun jalan tersebut pernah diaspal tetapi sudah rusak berat dan becek apabila musim penghujan, karena merupakan daerah pegunungan yang terjal. Keadaan jalan berkelok-kelok dan agak sempit sehingga apabila dilewati mobil yang berpapasan, salah satunya harus mengalah agar dapat saling berpapasan.
C. Pelaksanaan Tradisi Ngasa
Upacara adat Ngasa merupakan salah satu tradisi masyarakat Dukuh Jalawastu yang diselenggarakan setiap satu tahun sekali, dan biasanya dilaksanakan pada hari-hari tertentu yakni Selasa kliwon dan Jumat kliwon. Tempat penyelenggaraan upacara adat ngasa dilakukan di Pesarean Gedong Makmur, sedangkan waktu pelaksanaannya adalah mangsa kasanga.Mangsa kasanga adalah salah satu nama mangsa (musim) dalam Pranatamangsa (sistem penanggalan Jawa) yang umurnya mencapai 25 hari (1-25 Maret). Pranatamangsa ini berbasis pada peredaran matahari dan siklusnya serta memuat berbagai aspek fenologi dan gejala alam lainnya yang dimanfaatkan sebagai pedoman dalam kegiatan usaha tani maupun persiapan diri menghadapi bencana (kekeringan, wabah penyakit, serangan pengganggu tanaman, atau banjir) yang mungkin timbul pada waktu-waktu tertentu. Pengaruh mangsa kasanga terhadap semesta alam maupun manusia adalah sebagai suatu pertanda kehidupan. Selain itu, mangsa kasanga berada dalam penguasaan Batara Bayu yang mempunyai kekuasaan mengendalikan angin, dan bertepatan dengan musim penghujan sehingga memberikan harapan tersiarnya berita bahagia dalam kehidupan umat manusia.
D. Makna dan Tujuan Tradisi Ngasa
Masyarakat Dukuh Jalawastu merupakan sebuah komunitas adat yang hingga kini masih tetap mempertahankan tradisi-tradisinya, di antaranya adalah ketaatan mereka terhadap pantangan pantangan yang telah diwariskan secara turun-temurun, seperti tidak memakan nasi beras, daging dan ikan. Makanan pokok mereka adalah nasi jagung yang ditumbuk halus dan lalapan berupa dedaunan. umbi-umbian, pete, terong, sambal, dan daun reundeu yang diyakini hanya tumbuh di gunung kumbang, lingkungan alamnya Begitupun dengan piring dan sendok yang digunakan tidak menggunakan alat yang terbuat dari bahan kaca. Piring, sendok, cepon dan rantang yang digunakan mereka terbuat dari seng atau dedaunan. Selain itu, mereka juga pantang menanam bawang merah, kedelai serta memelihara ternak seperti kerbau, domba dan angsa. Mereka meyakini bahwa apabila pantangan-pantangan tersebut dilanggar akan mendatangkan musibah.
Hal yang unik di Dukuh Jalawastu, bahwa seluruh rumah yang dibangun semua berdinding kayu dan beratap seng. Rumahnya tidak boleh menggunakan atap genting dan tidak bersemen atau keramik. Sumber penerangan masih menggunakan kincir air bahkan masih ada yang menggunakan lilin. Mereka meyakini bahwa apabila pantangan-pantangan tersebut dilanggar akan mendatangkan musibah. Adapun upacara adat ngasa yang mereka lakukan sesungguhnya merupakan perwujudan rasa syukur kepada Batara Windu Buana yang dianggap sebagai pencipta alam. Sang Batara mempunyai ajudan yang dinamakan Burian Panutus. Ajudan ini semasa hidupnya tidak makan nasi dan lauk pauk yang bernyawa. Semua itu dilakukan sebagai perwujudan rasa bhaktinya kepada Batara.Dalam upacara adat ngasa, warga masyarakat Jalawastu juga melakukan hal yang sama, sebagaimana yang dilakukan oleh Burian Panutus.
Hal yang unik di Dukuh Jalawastu, bahwa seluruh rumah yang dibangun semua berdinding kayu dan beratap seng. Rumahnya tidak boleh menggunakan atap genting dan tidak bersemen atau keramik. Sumber penerangan masih menggunakan kincir air bahkan masih ada yang menggunakan lilin. Mereka meyakini bahwa apabila pantangan-pantangan tersebut dilanggar akan mendatangkan musibah. Adapun upacara adat ngasa yang mereka lakukan sesungguhnya merupakan perwujudan rasa syukur kepada Batara Windu Buana yang dianggap sebagai pencipta alam. Sang Batara mempunyai ajudan yang dinamakan Burian Panutus. Ajudan ini semasa hidupnya tidak makan nasi dan lauk pauk yang bernyawa. Semua itu dilakukan sebagai perwujudan rasa bhaktinya kepada Batara.Dalam upacara adat ngasa, warga masyarakat Jalawastu juga melakukan hal yang sama, sebagaimana yang dilakukan oleh Burian Panutus.
E. Alur Pelaksanaan Tradisi Ngasa
Upacara adat ngasa dilaksanakan setahun sekali, yaitu pada hari Selasa Kliwon atau Jumat Kliwon dati Pesarean Gedong Makmur. Biasanya upacara ini dimulai dari pukul. 06.00 WIB sampai selesai. Alur pelaksanaannya diawali dengan masyarakat dukuh Jalawastu dan masyarakat sekitar, seperti dukuh Garogol dan dukuh Salagading serta pata tamu undangan berjalan bersama-sama menuju Pasarean Gedong yang dipimpin oleh juru kunci pasarean dan para pemuka agama yang berpakaian putih-putih yang diikuti oleh ibu-ibu yang membawa makanan yang akan disajikan dalam ritual Ngasa.Setelah sampai di tempat upacara, biasanya acara Ritual Ngasa segera dimulai. Acara ini dihadiri oleh para perangkat pemda kabupaten Brebes, para kepala desa tetangga dan perangkatnya, Pemerintah Pusat dalam hal ini dihadiri oleh perwakilan dari Ditjen Kebudayaan Kemendikbud serta beberapa awak media baik media cetak maupun elektronik. Biasanya acara ini diawali dengan sambutan-sambutan, seperti sambutan dari pemuka adat dukuh Jalawastu, perwakilan daerah sekitar dukuh Jalawastu, dan sambutan terakhir dari perwakilan Direktur Kepercayaan terhadap Tuhan YME dan Tradisi, Kemdikbud.
Puncak ritual Ngasa adalah pembacaan doa yang dipimpin oleh 3 orang pemuka adat dukuh Jalawastu. Pembacaan doa dilakukan sekitar 10 menit, doa dibacakan dalam bahasa Sunda. Setelah pembacaan doa dilanjutkan dengan makan bersama dengan hidangan yang telah dipersiapkan oleh ibu-ibu. Makanan disiapkan dalam bakul-bakul yang secara umum berisi nasi yang terbuat dari jagung, sayur dari daun-daunan atau rebung, sambal dan lalapan. Para peserta makan dengan alas daun pisang atau piring dari anyaman bambu. Ritual Ngasa berakhir setelah makan bersama.
Komentar
Posting Komentar